Universitas Majalengka

KESANTUNAN BERAGAMA GENERASI MILENIAL

Unma.ac.id

Tulisan ini adalah repleksi Mata Kuliah Metodologi Studi Islam Program Studi Pendidikan Agama Islam FAI Univ. Majalengka. Penulis adalah Saudari Dede Irma Sri Rubaiah, mahasiswa semester II. 

Negara Indonesia, sejatinya dikenal sebagai negara yang menjunjung tinggi budaya, keramahan, dan sopan santun. Nilai kebudayaan Indonesia yang menjunjung sikap persaudaraan, saling menghormati, mencintai, dan menghargai sangatlah kental. Namun, dalam beberapa tahun ini budaya keramahan dan sopan santun mulai terkikis.

Ekstremisme, radikalisme, ujaran kebencian (hate speech), mencaci maki, penyebaran berita bohong (hoax), hingga retaknya hubungan antar umat beragama, merupakan problem yang dihadapi oleh bangsa Indonesia saat ini, dan harus segera dicarikan solusi terbaik.

Keragaman merupakan kehendak Tuhan. Keragaman tidak diminta, melainkan pemberian Tuhan Yang Mencipta, bukan untuk ditawar melainkan untuk diterima.

Indonesia adalah negara dengan keragaman etnis, suku, budaya, bahasa, dan agama yang nyaris tiada tandingannya di dunia. Selain enam agama yang paling banyak dipeluk oleh masyarakat, ada ratusan bahkan ribuan suku, bahasa dan aksara daerah, serta kepercayaan lokal di Indonesia.

Kenyataan beragamnya masyarakat Indonesia itu, dapat dibayangkan betapa beragamnya pendapat, pandangan, keyakinan, dan kepentingan masing-masing bangsa, termasuk dalam beragama. Beruntung kita memiliki satu bahasa persatuan, bahasa Indonesia, sehingga berbagai keragaman keyakinan tersebut masih dapat dikomunikasikan, dan karenanya antar-warga bisa saling memahami satu sama lain. Meski begitu, gesekan akibat keliru mengelola keragaman itu tak urung kadang terjadi.

Dari sudut pandang agama, keragaman adalah anugerah dan kehendak Tuhan; jika Tuhan menghendaki, tentu tidak sulit membuat hamba-hamba-Nya menjadi seragam dan satu jenis saja. Tapi Tuhan memang Maha Menghendaki agar umat manusia beragam, bersuku-suku, berbangsa-bangsa, dengan tujuan agar kehidupan menjadi dinamis, saling belajar, dan saling mengenal satu sama lain. Dengan begitu, bukankah keragaman itu sangat indah? Kita harus bersyukur atas keragaman bangsa Indonesia ini.

Moderasi beragama dapat dijadikan solusi terbaik untuk mengatasi kemelut yang terjadi sebagai salah satu upaya untuk mempromosikan agama dengan santun, terlebih di era milenial seperti saat ini. Sehingga tidak ada lagi, orang yang merasa paling benar, lalu dengan mudah menyalahkan, menghujat, dan mencaci maki karena berbeda keyakinan.

Sebagai generasi penerus bangsa, kita dapat memandang, bahwa kedamaian, saling menghormati, saling menghargai, saling mengasihi adalah sesuatu sangat indah. Sebab, sejatinya setiap agama mengajarkan kebaikan dan kedamaian hidup manusia.

Moderasi beragama adalah proses memahami sekaligus mengamalkan ajaran agama secara adil dan seimbang, agar terhindar dari perilaku ekstrem atau berlebih-lebihan saat mengimplementasikannya.
Orang moderat harus berada di tengah, berdiri di antara kedua kutub ekstrem itu. Ia tidak berlebihan dalam beragama, tapi juga tidak berlebihan menyepelekan agama. Dia tidak ekstrem mengagungkan teks-teks keagamaan tanpa menghiraukan akal/ nalar, juga tidak berlebihan mendewakan akal sehingga mengabaikan teks.
Pendek kata, moderasi beragama bertujuan untuk menengahi serta mengajak kedua kutub ekstrem dalam beragama untuk bergerak ke tengah, kembali pada esensi ajaran agama, yaitu memanusiakan manusia.

Prinsip beragama yang moderat itu ada dua, yaitu : adil dan berimbang.
Bersikap adil berarti menempatkan segala sesuatu pada tempatnya seraya melaksanakannya secara baik dan secepat mungkin. Sedangkan sikap berimbang berarti selalu berada di tengah di antara dua kutub. Dalam hal ibadah, misalnya, seorang moderat yakin bahwa beragama adalah melakukan pengabdian kepada Tuhan dalam bentuk menjalankan ajaran-Nya yang berorientasi pada upaya untuk memuliakan manusia.

Orang yang ekstrem sering terjebak dalam praktek beragama atas nama Tuhan hanya untuk membela keagungan-Nya saja seraya menyampingkan aspek kemanusiaan. Orang beragama dengan cara ini rela membunuh sesama manusia “atas nama Tuhan” padahal menjaga kemanusiaan itu sendiri adalah bagian dari inti ajaran agama.

Pemahaman dan pengamalan keagamaan bisa dinilai berlebihan jika ia melanggar tiga hal: Pertama, nilai kemanusiaan; Kedua, kesepakatan bersama; dan Ketiga, ketertiban umum. Prinsip ini juga untuk menegaskan bahwa moderasi beragama berarti menyeimbangkan kebaikan yang berhubungan dengan Tuhan dengan kemaslahatan yang bersifat sosial kemasyarakatan.

Jika seseorang atas nama ajaran agama, misalnya, melakukan perbuatan yang merendahkan harkat, derajat, dan martabat kemanusiaan, atau bahkan menghilangkan eksistensi kemanusiaan itu sendiri, itu sudah bisa disebut melanggar nilai kemanusiaan. Tindakannya jelas berlebihan atau ekstrem. Contoh konkretnya, dengan dalih jihad agama, seseorang meledakkan bom di tengah pasar lalu puluhan bahkan ratusan orang tak bersalah tewas seketika. Ini jelas tindakan ekstrem.

Islam; Agama yang Moderat

Islam mengajarkan kasih sayang bagi seluruh alam yang sering kita kenal dengan rahmatal lil alamin. Islam yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW adalah Islam humanis yang dapat mengayomi semua, dari berbagai lapisan sosial baik etnis maupun agama.

Islam mengajarkan kasih sayang pada semua makhluk : manusia, binatang, tumbuhan dan semua yang diciptakan oleh Allah SWT. Itulah indahnya ajaran Islam yang mengajarkan kasih sayang dan kedamaian kepada semua makhluk yang ada di muka bumi ini.

Generasi muda adalah calon pemimpin di masa yang akan datang. Sebagai generasi milenial, saya tidak ingin sahabat dan teman-teman menjadi generasi yang ekstrem, intoleran, dan terpapar paham radikalisme. Maka, perlu adanya pemahaman lebih mendalam tentang Islam yang moderat sejak dini kepada generasi milenial, agar mereka memiliki sikap yang santun, menghargai kerukunan, saling menghormati, dan mau menerima perbedaan.

Lantas, bagaimana cara menanamkan moderasi beragama kepada generasi milenial?

Menanamkan moderasi beragama terhadap generasi milenial, saya kira ada beberapa langkah yang mesti ditempuh :
Pertama, memanfaatkan media sosial (Medsos) dalam penyebaran nilai-nilai Islam yang moderat.

Kedua, melibatkan generasi milenial dalam aktivitas positif yang riil di masyarakat.

Ketiga, perlu adanya ruang dialog dengan generasi milenial, baik dalam lingkungan madrasah/sekolah, universitas, rumah, dan masyarakat dalam memahami agama.

Keempat, mengoptimalkan fungsi keluarga sebagai pusat utama pembinaan karakter positif.

Sebagai generasi milenial, mari kita bersama-sama menjaga kerukunan dan menjunjung tinggi toleransi antar umat beragama, agar dapat memperkokoh persatuan bangsa.

Jangan pernah ragu untuk menolak dengan tegas sikap dan perilaku intoleransi dan segala bentuk kekerasan. Sebab menolak keduanya adalah kunci keseimbangan demi terpeliharanya peradaban dan terciptanya perdamaian.

Menjaga kerukunan, dan keharmonisan antar umat beragama sejatinya akan memperkuat Negara Indonesia yang kita cintai menjadi lebih baik.

Generasi milenial harus mampu menjadi penyeimbang dan mendorong, untuk terus menebarkan bibit kesantunan. Hanya dengan kesantunan, keberagaman dan kerukunan negeri ini akan tetap terjaga. Karena berperilaku santun merupakan Titan dan nilai agama juga salah satu kearifan bangsa yang diajarkan para pendahulu kita.

 kontributor : ENCU M SYAMSUL (DOSEN)