Universitas Majalengka

KASUS VINA SEBAGAI PELAJARAN BERHARGA UMMAT

 Oleh : NURHIDAYAT (DOSEN)

unma.ac.id, Jumat, 14 Juni 2024

Informasi yang beredar bahwa Sodari Vina dicintai seorang
pria yang bernama Pegi. Vina menolak karena sudah punya pacar. Penolakan itu
bukan hanya dengan kata-kata, tapi dengan meludah di hadapan Pegi. Pegi pun
merasa terhina dan membunuh Vina. Kejadian ini tahun 2016 lalu dan mencuat lagi
di tahun ini (Mei, 2024). Bahkan kejadian ini menjadi inspirasi seorang
sutradara untuk membut film dengan judul Vina.

Terlepas dari kronologi pembunuhan yang sebenarnya, yang
perlu digaris bawahi adalah ”membunuh karena sakit hati diludahi”. Tentunya hal
ini sangat memilukan, di mana Indonesia atau khsusunya kota Cirebon yang
merupakan TKP, adalah mayoritas agama Islam, yang tentunya sudah femiliar
dengan rohmatan lil’alamin (kasih sayang bagi seluruh alam). Akhlak yang
tersaji malah sebaliknya, hanya gara-gara hal yang dinilai biasa jadi luar
biasa. Lalu bagaimana Islam memandang. Perhatikanlah firman Allah SWT pada
ayat-ayat berikut:

1.     
Q.S
Asy-Syuuraa, (42;40)


”Balasan suatu keburukan adalah
keburukan yang setimpal. Akan tetapi, siapa yang memaafkan dan berbuat baik
(kepada orang yang berbuat jahat), maka pahalanya dari Allah.
Sesungguhnya Dia tidak
menyukai orang-orang zalim.”

 

2.     
Q.S An-Nahl, (16;126)

 

”Jika
kamu membalas, balaslah dengan (balasan) yang sama dengan siksaan yang
ditimpakan kepadamu. Sungguh, jika kamu bersabar, hal itu benar-benar lebih
baik bagi orang-orang yang sabar.”

Dari dua ayat di atas maka hukum yang ada adalah jika
dijahatin orang lain maka halal membalas dengan balasan yang sama. Contoh ”jika
kita dipukul maka boleh kita memukul orang tersebut sebagai balasannya”. Tapi
yang perlu diperhatikan ”balasan yang sama”. Jika dipukul satu kali maka
balasannya satu kali juga, berat pukulannya 5kg maka balasannya 5kg lagi.
Pertanyaannya adalah ”Apakah kita bisa memastikan balasan kita terhadapa orang
yang menyakiti kita itu persis sama.” jangan-jangan lebih. Jika lebih, maka
sudah termasuk kedzaliman, dan inilah yang Allah pun tidak menyukainya.

Tentunya kedua ayat tersebut bukan merupakan sebuah
anjuran membalas kejahatan orang lain. Anjuran Islam adalah bersabar dan
berdamai, menyerahkan segala balasan kepada Allah SWT. Karena hakikatnya orang
lain yang melakukan kejahatan terhadap kita adalah penjahat di hadapan Allah
SWT yang balasannya sudah disiapkan, dan kita yang dijahatin jangan sampai
terjerat dalam kejahatan yang sama atau bahkan lebih.

Jika Pegi tahu dan sadar terhadap kedua ayat di atas
tentunya, hanya dihalalkan membalas kejahatan Vina yang meludahinya dengan
meludahi Vina-nya lagi, maka urusan selesai. Begitu juga Vina sebagai sang
peludah Pegi, tidak dibenarkan karena bertentangan dengah hadits Rasul yang
mengatakan bahawa sibaabul muslim fusuuqun wa qitaaluhu kufrun (menghina,
mencemooh, mencaci dll. seorang muslim itu merupakan perbuatan fasik dan
membunuhnya adalah perbuatan kufur).

Islam adalah merupakan pedoman hidup rohamatan
lil’aalamiin
tinggal ummatnya saja yang harus menjalankan ajarannya, maka
kehidupan akan penuh dengan kedamaian. Tidak ada yang menyakiti karena takut
dosa dan takut dibalas, tadak ada yang membalas karena takut berlebihan mending
bersabar karena pahala bagis yang sabar sudah menanti. Semuanya diserahkan
kepada Allah SWT yang maha mengetahui (innallooha samii’un ’aliim) dan
yang maha membalas/menyiksa kejahatan (Innallooha syadiidul ’iqaab). Seandainya
terpaksa menuruti hawa nafsi/kesal, maka cukuplah jika ada yang menghina
tinggal menghina lagi dengan kata-kata yang sama, jika ada yang memukul pukul
dengan pukulan yang sama, jika ada yang meludahi tinggal ludahi lagi sepertinya.
Tentunya ini bukan anjuran tapi hanya hukum tentang kehalalan suatu kondisi.