Akankah Genting Merah akan Menjadi Hijau?

Kabupaten Majalengka menjadi salahsatu kawasan andalan dan bagian dari Wilayah Provinsi (WP) yang diarahkan menjadi lokasi Bandara Internasional Jawa Barat dan Aerocity di Kertajati, pertambangan mineral serta pengembangan sarana dan prasarana yang terintegrasi di PusatKegiatan Wilayah (PKW) Kadipaten.

Lebih dari itu,Kabupaten Majalengka dipersiapkan menjadi kawasan pengembanga nagrobisnis dan industri bahan bangunan.

Melalui program MP3EI khususnya di Kabupaten Majalengka tersebut akan berdampak eksponensial terhadap pembangunan dan pengembangan wilayah mulai dari infrastruktur, sarana dan prasana seperti perhotelan, industri pengolahan dan industri manufaktur.

Dengan adanya Percepatan pembangunan ini, maka akan menjadi pendorong untuk terciptanya pasar (demand dansupply) yang terbuka lebar bagi industri-industri yang telah ada dan diharapkan akan menjadi unggulan daerah.

Salah satu kegiatan pendukung pengembangan kawasan industri bahan bangunan berdasarkan potensi yang dimiliki Kabupaten Majalengka adalah industri genting yang terletak dan terpusat di wilayah Kecamatan Jatiwangi serta sekitarnya sebagai produsen genting yang sudah terkenal diantaranya jenis genting morando, turbo dan plentong.

Perkembangan industri genting sedang/besar dimana sebanyak 88,48 persen merupakan industri genting kecil-menengah (Sumber: Stat. Produksi (Survei Industri Besar/Sedang) BPS Kab. Majalengka).

Sejak tahun 2012 hingga saat ini, jumlah industri genting Kabupaten Majalengka tidak mengalami pertumbuhan dan bahkan terjadi penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.

Hal tersebut menunjukan perlu dikembangkan kembali industri genting Jatiwangi Kabupaten Majalengka sehingga mampu terus menjadi sector industri unggulan dalam meningkatkan perekonomian di Kabupaten Majalengka dan terus mampu menjadi unggulan untuk sektori ndustri genting dari tanah liat di Indonesia.

Tidak dapat dipungkiri bahwa saat ini tuntutan konsumen menjadi bagian dari persoalan yang harus dihadapi oleh perusahaan-perusahaan genting baik skala kecil, menengah dan besar.Pertama, menghasilkan produk dalam waktu yang singkat dengan biaya rendah dan berkualitas.

Waktu, biaya dan kualitas dalam sebuah proses produksi menjadi segi tiga (triple helix) yang tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya.

Ketiga variable tersebut merupakan demand interest bagi konsumen, sehingga menjadi faktor bagi produsen agar dapat bersaing di pasaran.

Persoalan kedua adalah kemampuan mengubah variasi produk, permodalan dalam investasi merupakan permasalahan klasik bagi sector industri gentingkecil -menengah.

Padaumumnya, produsen genting memiliki ketergantungan terhadap pesanan artinya apabila tidak ada pesanan maka hampir dapat dikatakan tidak berproduksi.

Terjadinya penurunan jumlah produsi genting salah satunya dikarenakan produsen genting tidak mampu mengantisipasi permintaan variasi produk.

Persoalan ketiga adalah tingkat keahlian, faktor utama pada persoalan ini adalah tenaga kerja.

Hal ini menjadi permasalahan utama bagi perusahaan genting skala kecil- menengah karena selain biaya produksi langsung, ongkos tenaga kerja menjadi key factor dalam menentukan harga genting di pasaran.

Keterbatasan kemampuan, ketersediaan tenaga kerja ahli, ketergantungan musim menjadi masalah bagi perusahaan genting skala kecil-menengah hingga saat ini.

Modernisasi Teknologi Pada musim penghujan, produsen menghadapi masalah keterbatasan rak penjemuran genting, selain itu para tenaga kerja pun selama musim hujan para tenaga kerja beralih profesi menjadi petani.

Selain karena sebagai sumber mata pencaharian utama juga hasil yang diperoleh paratenaga kerja dari produse ngenting tidak sebanding dengan yang diperoleh dari bertani.

Hingga saat ini, belum ada kebijakan pemerintah daerah Kabupaten Majalengka dalam meningkatkan kapasitas dan kapabilitas tenaga kerja ahli yang dapat di berikan upah sebagai tenaga kerja professional. Pemerintah daerah juga belum berupaya asecara optimal sebagai fasilitator dalam memberikan dan menyampaikan solusi bagi produsen genting.

Sebagai solusinya maka pemerintah daerah sudah seharusnya mendorong produsen genting dalam memanfaatkan teknologi.

Pemanfaatan teknologi merupakan salah satu solusi dalam menghadapi keterbatasan ketersediaan jumlah tenaga kerja terutama yang masih bergantung pada faktor musim.

Selain itu, tata letak efektif juga dapat membantu organisasi mencapai strategi yang menunjang diferensiasi produk, biaya rendah dan respon cepat dengan tujuan untuk meningkatkan produktivitas kerja. (*)

Oleh Dony Susandi. Penulis adalah dosen Teknik Industri, Universitas Majalengka.

Artikel ini telah terbit di

Tinggalkan Balasan