Hijrah; Perubahan, Kebersamaan dan Kesejahteraan.

Oleh: Mulya Syamsul

Muqaddimah

Kampanye perubahan, kebersamaan dan kesejahteraan terus dikumandangkan oleh civitas akademika Universitas Majalengka termasuk YPPM sebagai lembaga penyangga Universitas. Sebagai sebuah Yayasan yang bergerak di dalam pendidikan YPPM bertekad kuat untuk terus menggelorakan pentingnya perubahan dalam berbagai sendi kehidupan khususnya dalam pengembangan ilmu pengetahuan. 
Dilansir dari sebuah berita yang baru-baru ini terjadi, bahwa gelora perubahan, kebersamaan dan kesejahteraan dimulai dengan adanya pembinaan profesionalisme dosen UNMA (baca berita YPPM beri stimulus S3 dalam unma.ac.id). 

Kendati demikian agenda perubahan telah dimulai sejak pemilihan Rektor UNMA beberapa bulan kebelakang sembari menetapkan agenda statuta baru yang menjadi standar sekaligus ruh universitas Majalengka. 

Agenda perubahan tentu selaras dengan momentum tahun baru Islam atau tahun baru hijriah, tahun hijriah memberikan kesan dan pesan bagaimana Islam sebagai agama dan sekaligus penggerak peradaban memulai perubahan yang dimulai atas dasar nilai-nilai yang di bawanya. Lantas bagaimana hubungan hijrah dengan tiga semboyan unam tersebut, mari kita telisik satu persatu. 

Pertama, perubahan

Perubahan diambil dari kata ubah, menurut KBBI online adalah menjadi lain (berbeda) dari semula. Sedangkan menurut Rhenald Kasali, PhD bahwa perubahan adalah terkait dengan genetik perilaku (behavioral genetics) yang akan mengarah pada dunia perubahan yang lebih baik. 

Kata ubah merupakan bagian dari kata kerja yang memberikan tuntutan untuk dilakukan, dikerjakan dan tentu menjadi beda dengan semula, sedangkan perubahan itu sendiri memerikan makna pada objek yang akan dan seharusnya terus berubah baik karena sifatnya maupun karena keadannya. 

Sebagai sebuah institusi pendidikan, perubahan menjadi hukum alam, setiap perubahan harus membawa pada nilai kemaslahatan ummat, ini yang didorong Islam dalam setiap kesempatan. Dorongan perubahan telah dicontohkan Nabi di beberapa abad lalu sehingga Nabi melakukan perubahan itu dimulai dari diri sendiri, keluarga, komunitas muslim sampai pada komunitas negara dan bangsa. 

Demikian halnya dengan institusi pendidikan, tanggung jawab untuk mengubah menjadi pesan sosial dan spiritual. Ilmu pengetahuan diajarkan untuk memberikan akses perubahan pada yang mempelajarinya, maka pantas jikalau genetics diajarkan tentang sesuatu maka akan terjadi perubahan didalamnya. Itulah nilai perusahaan dari sebuah kampanye ini. 

Berbicara mengubah genetics, maka yang akan muncul adalah DNA pengubah, DNA ini akan dilakukan melalui prinsip OCEAN yang terdiri dari : 1. Openness to experience, keterbukaan terhadap pengalaman hidup 2. Conscientiousness, keterbukaan hati dan telinga 3. Extroversion, keterbukaan terhadap orang lain 4. Agreeableness, keterbukaan terhadap kesepakatan 5. Neoroticism, keterbukaan terhadap tekanan-tekanan (Rhenald Kasali). 

Prinsip OCEAN apabila dikerjakan secara terbuka oleh siapapun yang berkehendak berubah akan memunculkan DNA-DNA perubahan sempurna. Bagaimana tidak sebuah perubahan akan menyentuh berbagai kondisi mulai dari pengalaman hidup, penerimaan diri, konsekwensi orang lain dan tekanan kehidupan. Semua itu dapat menjadi jalan menuju perubahan. 

Kedua kebersamaan. 

Kebersamaan bukan hanya bersama-sama dalam berbagai kegiatan atau pekerjaan, kebersamaan mengandung makna ikatan yang kuat karena rasa kekeluargaan/persaudaraan melebihi sekadar bekerja sama atau hubungan profesional biasa. 

Islam telah membimbing ummat melalui kebersamaan, bagaimana shalat lima waktu dibangun melalui shof/barisan dengan gerak yang sama dan seirama yang diukur melalui kepemimpinan imam, apabila imam mengangkat dua tangan maka makmum/barisan yang dibelakangnya dengan penuh kesadaran mengangkat kedua tangan pula, begitupun dalam gerakan lainnya. Kebersamaan ini telah membentuk dan menguatkan pilihan. 

Sebuah pekerjaan akan terasa ringan apabila dikerjakan secara bersama-sama melalui kebersamaan, kampus bukan mimik personal, bangunan madrasah bukan milik marbot dan begitupun Indonesia bukan milik presiden. Tapi apa yang ada dan hadir membentuk setatus sosial itu milik bersama yang harus di bangun melalui kebersamaan. 

Rasa kebersamaan akan muncul apabila dibangun berdasarkan tujuan, semua komponen akan meresa tanggung jawab apabila punya kesamaan tujuan, maka tujuan dari kehidupan apapun yang dibangun puncaknya adalah keridhoan Sang Maha Memiliki dan Mengasihi Allah SWT. 

Selain itu bangunan kebersamaan kampus dibangun melalui tujuan mulia yaitu kebermanfaatan ilmu pengetahuan, kolaborasi pengalaman dan pengetahuan menjadi upaya yang sadar bagi setiap insan kampus dalam mencapai kemaslahatan ilmu pengetahuan. Semoga. 

 Ketiga kesejahteraan 

Efek perubahan dan kebersamaan ukurannya adalah kesejahteraan, Allah berfirman “waman yattaqi lelah yajallahu makhroja wayarjukhu min haitsu la yah tasib” (barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah akan menjadikan kepada kamu rezeki dari berbagai arah yang sama sekali tidak diketahui). 

Membangun kesejahteraan sejak dini menjadi kewajiban kita dalam mencapai ikhtiar, bangunan perubahan dan kebersamaan dalam mewujudkan cita-cita mulia sebagai salah satu bentuk ikhtiarnya. Oleh karena itu kesejahteraan akan terwujud apabila DNA kita berjalan dalam koridor perubahan yang dilakukan dengan berjamaah/bersama-sama. 

Momentum hijrah

Prosesi 1 Muharram hanyalah cara kita mengingat perubahan, perubahan harus dilakukan setiap saat dimana pun dan kapanpun. Islam berpesan “apabila hari ini lebih buruk dari hari kemarin maka kita rugi, dan apabila hari ini lebih baik dari kemarin maka kita beruntung (alhadits). 

Manusia diciptakan oleh Allah SWT sebagai makhluk yang sangat sempurna, menurut ahaki Mantiq bahwa “Al insan hayawanun natiq” (manusia itu hewan yang berfikir/mempunyai akal). Dengan demikian manusia sangat dianjurkan untuk berubah, karena kemuliaan akal ada pada perubahan. 

Sebuah perubahan tidakkah meniadakan apa yang telah dilakukan, apa yang sudah baik tentu harus di rawat dan apa yang belum maka lakukan perubahan dalam sebuah kaidah disampaikan “almuhafadh ala qadami shalil wal akhdzu bijadidil salah”.

Pada kesempatan lain Rasulullah bersabda “ittaqullaha haitsuma junta watmiisaiatal hasanata tamhuha wakholiqinnasi bikhuluqin hasanin” (bertakwalah kepada Allah dimanapun kalian berada, ikuti perbuatan buruk dengan perbuatan baik dan pergaulilah semua makhluk dengan akhlak yang baik). 

Alhasil, kegiatan perubahan, kebersamaan dan kesejahteraan merupakan bagian dari hijrah yang baik dan sebagai ikhtiar kita untuk mewujudkan kemaslahatan. Aamiin. 

 

 kontributor : ENCU M SYAMSUL (DOSEN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.