Resensi Jejak Langkah Pembaharuan Pemikiran Islam di Indonesia

Resensi Sebagai tugas mata kuliah Metodologi Studi Islam pada Program Studi Pendidikan Agama Islam semester 2

A. Identitas Buku

Judul Buku : JEJAK LANGKAH PEMBAHARUAN PEMIKIRAN ISLAM di INDONESIA

Penulis : ABDUL QODIR, M. Ag.

Penerbit : CV PUSTAKA SETIA
 
 
Jl. BKR (Lingkar Selatan) No. 162-164
 
 
Telp. (022) 5210588
 
 
Faks. (022) 5224105
 Bandung – 40253

Tahun Terbit : 2005

Cetakan I : November 2004 M/ Ramadhan 1425 H

Jumlah Halaman : 171 Halaman

Harga Buku : Rp. 14.000
 

B. ISI BUKU

Buku yang berjudul “Jejak Langkah Pembaharuan Pemikiran Islam di Indonesia” adalah buku yang menjelaskan salah satu karakter islam yang dinamis, hal itu tampak dari keluasan ajaran ajaran yang dapat dipakai oleh siapapun, dimana pun, dan kapan pun. Secara factual. Berkenaan dengan hal itu timbul permasalahan karena setting masyarakat yang selalu berbeda beda dari satu priode ke priode lainnya, atau dari suatu tempat ke tempat lainnya. Indonesia secara geografis merupakan sebuah wilayah yang begitu jauh dari pusat tumbuh kembangnya islam. Kenyataan ini, telah membukakan mata beberapa ulama ulama besar di Indonesia untuk mencoba melakukan interpretasi ulang terhadap ajaran ajaran islam. Diantaranya mereka adalah GUS DUR ( ABDURRAHMAN WAHID) Dan CAK NUR (NUR CHOLIS MADJID). Kedua tokoh ini laksana sebuah icon pembaharuan pemikiran islam Indonesia yang mencoba menawarkan penafsiran baru tentang islam dengan pola pemikiran yang tampak berbeda beda melalui adagium pribumisasi islam,  

Istilah pembaharuan identik dengan modernisasi, reformasi, tadjid, dan ishlah. Modernisasi berasal dari kata modern. Secara etimologi, modern diartikan terbaru, mutakhir, sedangkan secara terminologi berarti sikap, cara berpikir, serta bertindak sesuai dengan tuntutan zaman. Pembaharuan atas pemahaman ini dilakukan karena beberapa alasan, di antaranya karena pemahaman lama dinilai tidak lagi sejalan dengan perkembangan zaman, atau mungkin karena paham-paham yang ada dianggap menyimpang dari maksud teks yang sebenarnya. Pembaharuan dalam Islam dilakukan pada hal-hal yang terkait dengan masalah-masalah yang melingkupi kehidupan muslim, bukan yang terkait dengan dasar atau ajaran Islam yang fundamental.

C. ISI

Pemikiran Islam di Indonesia, setidaknya dapat dikategorikan dalam empat kelompok besar. Pertama, Neo-Modernisme. Pola pemikiran ini berasumsi dasar bahwa Islam harus dilibatkan dalam pergulatan-pergulatan modernisme. Kedua, Sosialisme-Demokrasi. Kelompok ini berpendapat bahwa pada dasamya misi Islam yang terutama adalah misi keislaman. Oleh karena itu, kehadiran Islam harus memberi makna pada manusia.Islamisasi dalam refleksi pemikiran mereka adalah karya-karya produktif yang berorientasi pada perubahan-perubahan sosial-ekonomi dan politik menuju terciptanya masyarakat adil dan demokrasi. Adi Sasono, dan M. Dawam Rahardjo, dan Kuntowijoyo bisa dimasukkan dalam pola pemikiran ini. Ketiga, Internasionalisme atau Universalisme Islam. Pendukung universalisme Islam berpendapat bahwa pada dasarnya, Islam bersifat universal. Oleh karena itu, ia merupakan diktum yang tetap. Keempat, Modernisme. Pola pemikiran ini lebih menekankan aspek rasional dan pembaharuan pemikiran dalam Islam sesuai dengan kondisi-kondisi modern.

Selanjutnya, potret lain yang juga cukup penting dalam menyoroti perkembangan peta pemikiran umat Islam adalah tulisan William Liddle dalam “Monograf Politics and Culture in Indonesia”. Melalui pendekatan politik, Liddle menemukan tiga corak pemikiran Islam di Indonesia.

Pertama, Indigenist yaitu kelompok pemikiran yang percaya bahwa Islam bersifat universal.

Kedua, Sosial Reformis yaitu gerakan Islam yang lebih menitikberatkan pada pemikiran dan aksi untuk mengatasi berbagai kemiskinan dan ketimpangan sosial yang masih melanda umat Islam, sebagai akibat proses pembangunan yang bersifat top-down.

Ketiga, Universalisme, yaitu kelompok pemikiran yang percaya bahwa Al Quran dan Hadis yang dibawa Nabi Muhammad SAW, sudah sangat sempurna dan dapat diterapkan langsung pada masyarakat apa pun.

Moeslim Abdurrahman pun mengonstruksikan tiga corak pemikiran Islam yang berkembang selama ini.

Pertama, modernisasi Islam, yaitu pemikiran yang bertolak dari pengembangan pesan Islam dalam konteks perubahan sosial.

Kedua, Islamisasi yaitu gerakan pemikiran yang cenderung mengganti teks dalam rangka perubahan sosial.

Ketiga, teologi transformatif, yaitu kelompok pemikiran yang menaruh perhatian besar terhadap persoalan keadilan dan ketimpangan yang muncul dalam proses pembangunan bangsa saat ini.

diungkapkan oleh Abdurrahman Wahid dalam “Kontroversi Pemikiran Islam di Indonesia”, juga dalam risalah kecil, “Peranan Umat dalam Berbagai Pendekatan”.44 Di situ, ia membagi tiga corak pemikiran Islam yang berkembang dewasa ini.

Pertama, pendekatan alternatif, yaitu pendekatan yang memandang bahwa Islam merupakan sistem nilai yang lengkap dan menjadi alternatif bagi sistem nilai yang ada sekarang.

Kedua, pendekatan budaya, yaitu gerakan pemikiran Islam yang menitikberatkan pada usaha-usaha pembudayaan, enlightenment, dan pencerahan nilai-nilai Islam terhadap masyarakat muslim.

Ketiga, pendekatan sosial-budaya, yaitu gerakan pemikiran Islam yang menekankan pada usaha perubahan kelembagaan atau institusi institusi yang ada kepada acuan Islam, tanpa menjadikan Islam sebagai alternatif kelembagaan.

Pada dasarnya pola-pola, yang diungkapkan para pemikir Islam Indonesia adalah suatu usaha untuk mencari formula dalam menyikapi perkembangan persoalan yang dihadapi masyarakat Indonesia. dengan demikian diharapkan dari berbagai pola yang diajukan dapat tercipta solusi kehidupan yang sesuai dengan tuntutan zaman. Sebab, Islam adalah agama yang sesuai untuk segala situasi dan zaman.

D. KELEBIHAN

Kelebihan dari buku ini yaitu, bukunya cukup mudah dipahami karena di dalam buku ini dituliskan secara padat informasi-informasi yang kita perlukan sehingga menambah pengetahuan baru bagi kita. Pada bagian tokoh dan pemikirannya di pisahkan per-bab. Sehinga mempermudah pembaca untuk mengetahui informasi mengenai tokoh-tokoh pembaharuan tersebut.

E. KEKURANGAN

Kekurangan buku ini yaitu, terdapat beberapa kata dan bahasa yang kurang dimengerti sehingga membuat pembaca harus memahami dulu kata tersebut.

Presensi Buku :

1.      Muhamad Agisni (21.10.1.0032) Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Agama Islam, Universitas Majalengka

2.       Rizan Rudiana Hidayat (21.10.1.0003) Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Agama Islam, Universitas Majalengka

3.      Royan Babush Shoimin (21.10.1.0025) Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Agama Islam, Universitas Majalengka

 kontributor : RIZAN RUDIANA HIDAYAT (MAHASISWA)

Tinggalkan Balasan