TEBARKAN KEBAIKAN WALAUPUN TAK TERNILAI

Bismillahirahmanirahim, tulisan ini disajikan dalam menyambut Hari Jum’at sebagai Rajanya Hari, semoga menjadi kebaikan dan keberkahan bagi siapapun yang mengambil pelajaran didalamnya. 

Manusia hidup di dunia tidak terlepas pada adanya prilaku baik dan buruk, keduanya menjadi ciri yang tidak dilepaskan dan bukan hanya menjadi ciri melainkan jadi nilai bagi manusia. kebaikan dibutuhkan perjuangan begitu pun dengan keburukan. perjuangan kebaikan memerlukan konsentari, tegaga, jiwa, raga dan juga ekonomi. keburukan pun sama memerlukan konsentrasi sebagaimana layaknya memperjuangkan kebaikan. 

Ibnu Mas’ud menceritakan, suatu hari Rasulullah sollalahu alaihi wassalam tidur di atas tikar. Ketika bangun, tikar itu memberikan bekas pada  rusuk Nabi. lalu kami berkata, “Wahai Rasulullah, bolehkah kami membuatkan untukmu kasur?, Rasulullah menjawab, “Apa kepentinganku terhadap dunia ini! Aku di dunia ini hanyalah seperti orang yang memiliki kendaraan yang sedang berteduh sebentar dibawah sebuah pohon, kemudian akan pergi meninggalkannya”. 

Berkaca dari apa yang diceritakan Ibn Mas’ud, betapa agungnya pribadi Rasulullah SAW. harta dunia hanya akan sementra dan Rasulullah mengibaratkan seperti berteduh di bawah pohon ketika hujan, dan apabila telah selesai hujan maka kita akan berangkat melanjutkan perjalanan untuk menuju tempat peristirahatan yang sebenarnya. 

Perjalanna manusia yang Allah SWT telah limpahkan adalah mulai dari alam ajali (lauhil mahfudz), alam rahim (kandungan Ibu kita di dunia), alam dunia (tempat kita memupuk kebaikan atau keburukan), alam barzah (tempat pertanggung jawaban amal sementra) dan trakhir adalah alam mahsyar (tempat abadi yang disiapkan Allah antara Surga dan Negraka). 

Apakah perjalanan manusia diisi dengan kebaikan dan keburukan, jawabannya wallahu ‘alam. jika diisi dengan kebaikan, maka sekecil apapun yang dilakukan oleh kita sebagai manusia yang berusaha melaksanakan titah syariat Allah SWT maka itu akan menjadi kebaikan. bukankan hidup kita ini adalah semuanya bisa bernilai Ibadah, Syaid Qutub menyampaikan “Al-Hayatu Kuluha Ibadah” (kehidupan ini semuanya adalah ibadah). 

Kebaikan menjadi sentral nilai yang akan menyelamatkan kita dari mengarugi perjalan yang Allah siapkan. beberapa nilai kebaikan yang kita bisa tumbuhkan dalam mengisi nilai-nilai kemanusian adalah sebagaimana Hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Abu Dzar radiallahu’anhu, Rasulullah bersabda “Sungguh janganlah kamu memandang rendah suatu kebaikan pun, meski kamu sekedar bertemu saudaramu dengan wajah yang berseri-seri” dalam hadits yang lain “Sungguh jangan kamu hina sedikit pun kebaikan, meskipun engkau hanya diberi seutas tali, meskipun enggkau hanya diberi sendal yang putus talinya, meskipun sekedar menuangkan air dari embermu ke dalam bejana orang yang sedang mencari air, meskipun hanya sekedar wajah yang berseri-seri ketika berbicara dengan saudaramu, meskipun hanya menjinakan hewan buas”. 

Begitulah nilai kebaikan yang tidak terbatas sampai apa yang kita lakukan, bahkan hanya sekedar memberikan wajah yang berser-seri dihadapan sesama atau pun keluarga sanak saudara. dalam haditas lain Rasulullah menggambarkan bagian dari Iman seseorang dengan jalan memulyakan saudaranya atau sesamanya. 

Memuliakan Manusia bagian kebaikan

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surah At-Taubah ayat 79 yang artinya: 

“(orang-orang munafiq itu) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekadar kesanggupannya, maka orang-orang munafiq itu menghina mereka. Allah akan membalas penghina mereka itu, dan untuk mereka azab yang pedih”. 

Memperhatikan ayat diatas, Wahbah Al-Zuhaili memberikan alasan bahwa ayat tersebut diturunkan Allah SWT sebagai sebab tatkala Rasulullah berkhotbah dihadapan sahabat dan menganjurkan mereka untuk bersedekah, para sahabat berbondong-bondong untuk bersedekah, Sahabat Abdurahman Bin Auf datang bersedekah kepada Rasulullah sebanyak 4 ribu dirham, Abdurahman berkata “Aku memiliki 8 ribu dirham, 4 ribu aku simpan untuk keperluanku dan kelaurgaku, dan 4 dirham aku infakan di jalan Allah” Rasulullah berkata, Semoga Allah memberkahi harta yang engkau sedekahkan dan harta yang engkau simpan”, Allah pun mengabulkan do’a, yang kemudian harta yang disimpan oleh Istrinya terus bertambah jumlahnya hingga 80 ribu dirham. 

Selain itu Allah berfirman dalam surah al-Zalzalah ayat 7-8. “siapapun yang mengerjakan kebaikan sebesar dzarah niscaya akan melihat balasannya dan siapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarah niscaya dia akan melihat balasannya”. dalam hal ini Prof. Quraish Shihab menjelaskan, siapapun berbuat suatu kebaikan, walaupun hanya sebutir debu, ia akan melihat dalam catatan amal perbuatannya dan mendapatkan balasannya. begitu pun sebaliknya. 

Kemuliaan manusia ada pada kebaikannya, kita tidak akan melihat kemuliaan manusia dalam keburukannya. ikhtiar untuk berbuat baik dan memandang baik semua orang tentu menjadi nilai baik bagi amal perbuatannya kelak dan akan mendapatkan balasannya dari Allah SWT. terakhir, mari kita memandang baik setiap perbuatan manusia sekecil apapun dan dengan kebaikan itu kita akan menumbuhkan sikap damai diantra sesama manusia, wallahu’alam. 

 kontributor : ENCU M SYAMSUL (DOSEN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.